Berikut pemikiran Kwik Kian Gie tentang Subsidi BBM. Untuk selengkapnya silahkan lihat di URL di bawah. KKG bahkan menantang debat terbuka di media TV. Adakah media TV yang tertarik?
http://www.koraninternet.com/web/index.php?pilih=lihat&id=4565
Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126%.
…
Dalam Tabel II saya mengakomodir pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$.
Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun kan milik rakyat Indonesia juga? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I.
…
Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah? Buat urusan perut rakyat yang termiskin yang notabene pemilik minyak, janganlah lebih mementingkan iklan – iklan.






salam kenal mas,,,,,,, uhhh….rakyat lagi-lagi jadi korban,,,,,,,,,
mau berubah, klik link di bawah : sory numpang :
http://www.layananiklan.com
Komentar oleh SUSI IMUUT — Mei 23, 2008 @ 3:59 pm
tapi akhirnya naik juga….
Komentar oleh aRuL — Mei 23, 2008 @ 5:51 pm
Saya bukanlah dari latar belakang ekonomi, dan saya sangatlah buta dengan apa yang dinamakan ekonomi itu sendiri. Tapi dari apa yang saya tangkap, APBN jebol dikarenakan Indonesia harus membeli minyak dengan harga pasaran dunia, dan menjualnya di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah dari harga dunia. Selisih kedua harga itulah yang harusnya di sebut dengan subsidi BBM. Yang saya tidak mengerti, kenapa Pertamina harus membeli minyak dari mentri Keuangan yang notabene hanyalah berurusan dengan uang, dan Pertamina juga masih dibawah naungan BUMN. Mengapa kedua lembaga ini bertransaksi atas minyak, yang jelas-jelas keduanya bukanlah produsen minyak, yang satu hanya sebagai distributor, dan satunya lagi ada lembaga keuangan negara. Sekarang kalaulah dibilang surplus melihat tabel diatas, yang surplus adalah Menteri Keuangan karena mendapatkan dana dari Pertamina, tapi apakah Pertamina itu sendiri juga surplus? dan jangan lupa bahwa Pertamina juga masih dibawah BUMN. Apakah benar sistem pembelian minyak mentah di Indonesia seperti ini?
Komentar oleh Kuli Tinta — Mei 24, 2008 @ 12:16 am
Percuma diadakan debat publik juga la wong harga bbm sudah naik,malah cuma bs memperkeruh suasana aja tapi tanpa hasil.
Komentar oleh amanjaelani — Mei 24, 2008 @ 2:21 am
coba dikaitakan BBM surplus itu ma APBN.. Balance Sheet… jangan cuma BBMnya aja mas.. APBN yang notabene dasar dari pembangunan, pertumbuhan ekonomi, menjaga laju inflasi, dll, kalau itu minus karena nanggung atau tidak cukup, maka itu sama aja mau ngancurin masa depan negara kita mas..
APBN tuh sebagian besar dibiaya oleh hasil dari BBM, jadi sama aja nanti kembali ke rakyat.. Kalau Hasil dari BBM cuma buat subsidi BBM lagi.. Yach macet negara kita…
Salut Buat SBY yang mengorbankan kepentingan pribadi politisnya demi masa depan NEgara.
Komentar oleh Suluh — Mei 24, 2008 @ 4:08 am
Setuju Bos
Komentar oleh ariel4ever — Mei 24, 2008 @ 5:26 am
setuju banget.
supaya semua orang tahu bagaimana menghitung kalkulasi nilai BBM skrg.
Komentar oleh robby — Mei 24, 2008 @ 6:03 am
kalau pak kwik bener sooo pemerinta nipu donkkk
Komentar oleh zoel chaniago — Mei 24, 2008 @ 8:24 am
Kapitalis sedang dan terus akan berkuasa….pemerintah hanya boneka saja.
Komentar oleh usamah — Mei 24, 2008 @ 3:02 pm
Aku sepakat dengan Pak Kwik. Aku menduga, ada tekanan asing (Bank Dunia dan kawan-kawannya) dalam soal kenaikan harga BBM ini. Soalnya Bank Dunia dan kawan-kawannya kan gak mau pembayaran utangnya kesendat-sendat gara-gara pemerintah terus mensubsidi BBM. Soalnya kan mereka, termasuk IMF, sejak dulu ngotot agar subsidi dihapus. Ya, agar pembayaran utang kepada mereka lancar. Mereka gak mau tahu rakyat Indonesia jadi makin miskin karena itu.
Komentar oleh jalansetapak — Mei 24, 2008 @ 3:17 pm
Pemerintah harus lebih transparan
Komentar oleh sufimuda — Mei 24, 2008 @ 3:41 pm
Naaaaaahhhh… ini dia yang menarik nih untuk dijadikan diskusi dan dicari solusinya. Bukannya soal SBY pantas jadi presiden lagi, itu sih lagu lama!
Bener Mas Niza, perhitungan KKG itu sangat masuk akal. Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang praktisi di perusahaan pengeboran minyak mentah (Crude Oil), meski pendapat dia menentang KKG, namun argumen2 dia ternyata sama dengan yang dikemukakan KKG pada akhirnya.
Sayang, dari pemerintah, Menkeu Sri Mulyani cuma berani menyindir KKG tanpa adanya bantahan ilmiah berdasarkan fakta dan datanya. Apa pemerintah takut membuka rahasia pada rakyatnya sendiri ya? Who knows…
Komentar oleh reviewkita — Mei 24, 2008 @ 4:54 pm
Minyak naik, but no subsidi dr pemerintah, BLT merupakan usaha pemerintah memiskinkan masyarakat. bener gak tuh??
salam
http://errinaproject2008.wordpress.com
Komentar oleh errinaproject2008 — Mei 24, 2008 @ 6:57 pm
Perekonomian Indonesia laksana pertunjukan sulap, yang tidak ada dibikin ada sedangkan yang nyata dibikin hilang. Bravo, negara kita memang ahli dalam ilmu sulap.
Salam http://economatic.wordpress.com/
Komentar oleh economatic — Mei 25, 2008 @ 1:15 am
Hebat Pak Kwik, Hanya yang disesali, Koq Pak Kwik saat Menteri yang duduk dalam Kabinet Mbak Mega , kelihatan tidak bisa juga buat gebrakan….Pak Kwik selama ini menjadi Hobby Oposisi sejak zaman era Soeharto.
Komentar oleh Yora — Mei 25, 2008 @ 2:58 am
tadi malem ada tuh di rcti
beliau sama mentri esdm
minyak aslinya 600 perak dijual 4500 ..haa..haa..
Komentar oleh rakyat miskin — Mei 25, 2008 @ 3:29 am
oooo aku ketipu lagi …
dasar
Komentar oleh Taufik — Mei 25, 2008 @ 8:01 am
wahh berita bagus lagi nih, emang bangsat itu pemerintah yang mengadakan subsidi, tapi dibalik itu masyarakat dibebani kenaikan BBM,
kawan ada berita bagus, bahwa ada BBM terbuat dari air. infolengkp klik
http://www.212baca.wordpress.com / http://www.layananiklan.com
Komentar oleh sunny2008 — Mei 25, 2008 @ 10:07 am
sepakat ama pak kwik.. salam kenal
Komentar oleh orangmiskin — Mei 25, 2008 @ 12:35 pm
emang pemerintah gak mau dengerin masukan…pemerintah please dengerin masukan2 ini kanapa seh..??
Komentar oleh sams — Mei 26, 2008 @ 1:42 am
Aku mesti percaya atau ndak ya sama pak Kwik, memang dia jago ngitung2, tapi murni teori thok. Dulu juga waktu beliau jadi menteri juga ga ada gebrakannya sama sekali. Teori dan implementasi kadang sulit disejajarkan di lapangan.
Komentar oleh clovanzo — Mei 26, 2008 @ 2:14 am
Menurut saya Kwik itu pro rakyat.
Cuma zaman Mega, selain Kwik yang jadi mentri ada lagi Mentri Boediono dan Laksamana Sukardi yang “DITERIMA PASAR”. Nah akhirnya justru BBM saat itu mengikuti harga dunia dan BUMN2 diobral dengan harga murah.
Ibarat main bola, meski bagus kalau cuma sendirian dan tidak dioper percuma.
Komentar oleh nizaminz — Mei 26, 2008 @ 3:12 am
Salut buat SBY !!!
jangan pernah melihat uang dari satu sisi saja, maka itu bukan uang namanya.
Komentar oleh dwi setya — Mei 26, 2008 @ 3:26 am
Debat Sambil MMMoCI wenake pooooll…
Komentar oleh hasilkebun — Mei 26, 2008 @ 3:58 am
Memang… yang paling menyakitkan di dunia ini adalah dibodohi oleh orang
tolol… yaaa seperti di negara kita ini… Rakyatnya udah semakin pinter,
eh.. pemimpinnya masih coba2 membodohi.. apa gak lucu?.. Kayaknya jauh lebih
lucu daripada Mr.Bean…
Ada lagi yang ngomongin masalah disparitas harga BBM nasional dengan negara2
lain…. Wake Up MISTER…!!!.. Orang2 sono mah udah gak mikirin perut
kebawah lagi, tapi udah perut keatas….
Kalo mau, usulin kek tentang penghapusan disparitas harga BBM nasional antara
BBM industri dengan non-industri, yang jelas2 bikin mata mencorong buat
orang2 yang bermental korup dan penyelundup… baru enak didenger….
Memang mudah buat kita2 berkomentar, tapi gak ngerasain kalo udah jadi
pemimpin… Eeiitt… jangan salah…. Kalo jadi pemimpin dengan kualitas
seperti yang sudah2 dan yang seperti sekarang sih, banyak orang yang
mampu…. Yang susah, kalo jadi pemimpin dengan kemampuan diatas rata2 orang
pinter, tegas dan bijaksana… Gak idealis kok… kayaknya masih banyak
bangsa kita yang mampu.. jangan sampah lagi..sampah lagi…yang jadi
pemimpin…
Mengenai masalah bahwa kita sampai hari ini dijajah kapitalis itu udah lagu
lama. Semenjak kita merdeka, para yahudi dan amerika memang selalu minta
jatah (lebih tepat disebut upeti) akibat dari hasil kerja mereka ngebom
Hiroshima & Nagasaki. Yaa… cari2lah kisah sejarah sejak jaman belanda
sampai suharto tumbang, tapi sejarah yang sahih ya…
So… nanti anda akan menemukan fakta kenapa para pemimpin kita kok betah atau takut bin ikut2an serakah dalam menjarah hasil bumi Indonesia, sehingga tega menyengsarakan rakyat.
Komentar oleh Ule — Mei 26, 2008 @ 4:28 am
Harga BBM udah naik, ikat pinggang makin dikencengin.
Komentar oleh Kantini — Mei 26, 2008 @ 6:17 am
Setuju dengan Ule.
Indonesia butuh pemimpin spt Hugo Chavez di Venezuela.
Produksi sendiri, olah sendiri (training, belajar).
Salah satu perusahaan minyak dari US setahun dengan “minyak”nya dapat 1,090.00 Trilliun versi CNN.
Bersihnya mungkin 1/3 nya… ck ck ck..
Minyak, minyak RAKYAT dikasih keluar.
Udah gitu yang PUNYA MINYAK a.k.a RAKYAT yang ada diperut tanah miliknya, dinaikin, ck ck ck…
Yang juga uang mereka di PAJAKIN untuk bayar gaji para pejabat… berharap mereka mau memikirkan.
Swasta ? diminta naikin gaji karyawannya..
)
Uenakknya…
Satu lagi, Pemerintah ga mau mikir dari pos yang lain untuk nutupin APBN.
) buat apa ajah tuh.
Mikir yang paling gampang, yakni BBM naikin.
Kalo gak sanggup, ya mundur ajah jadi pemimpin. (tahun depan mundur ya… kasih kesempatan yang lain yang lebih kompeten dan berani).
Anggaran & Belanja Pemerintah sampai di potong 21 Trilliun ?
ck ck ck, gedenya
BLT hanya buat sebulan dan 100 rebu pulak ?
Dapat apa hari gini… ?
TIDAK mendidik.
ttd..
rakyat yang beli apa2 dah mahal
Komentar oleh Rakyat — Mei 26, 2008 @ 10:16 am
bagaimana saya Akan mendebat Anda,
BBM sudah naik menjadi Rp 6.000
dan di surabaya pagi ini, orang-orang kelimpungan karena sopir angkot demo
Untungnya sore ini dah selesai demonya
Salam hormat
Komentar oleh ILYAS AFSOH — Mei 26, 2008 @ 10:37 am
haduh… bener2 gak ngerti dah… sbenarnya itung2annya gimana sih??
Komentar oleh kamal87 — Mei 26, 2008 @ 11:01 am
kayaknya emang udah bakat kok naikin minyak semenjak reformasi? indonesia memang aneh
Komentar oleh Rizki on benbego — Mei 26, 2008 @ 1:04 pm
Televisi nasional jelas dari dulu adalah corong pemerintah. Kalo televisi2 swasta..mereka itu kan metamorf-metamorf kapitalis, jadi sangat diragukan keberpihakannya ke rakyat, tayangan2 hanya dititikberatkan pada bagaimana supaya ratingnya tinggi, alih-alih menggalang siaran-siaran yang memperjuangkan amanat rakyat..
Komentar oleh padmasambawa — Mei 26, 2008 @ 4:33 pm
apapun alasan pemerintah untuk menaikan BBM tetap akan menyengsarakan rakyat,dalam pandangan ekonomi islam minyak termasuk dalam jenis kepemilikan umum yang itu tidak boleh dikuasai oleh swasta,dan hanya boleh diolah oleh negara dan itu pun untuk kepentingan rakyat.cobalah kita berkaca pada Venezuela disana harga minyak tanah per liternya cuma Rp.500,dan iran per liternya cuma Rp.350. padahal Indonesia juga sama2 negara penghasil minyak bumi.Inilah akibatnya jika pemerintah lebih mempercayakan kekayaannya pada asing dari pada putra-putri negri sendiri.Semua permasalahan ekonomi,politik dan masalah multidimensional lainnya dapat selesai kalau kita mau dan berani mengatakan tidak pada barat yaitu sisitem kapitalisme yang telah menghancurkan bangsa ini.
Komentar oleh wulan Az Zahiin — Mei 27, 2008 @ 1:25 am
sayang dulu sebelum jadi menteri beliau keras menentang imf, namun setelah jadi kok melempem. dulu masa beliau jadi menteri juga bbm sempat naik, sekarang kok malah protes…
Komentar oleh noviarman — Mei 27, 2008 @ 3:11 am
BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk
=====================================
Kenapa pemerintah SBY-JK ngotot menaikkan harga BBM? Ternyata, hal itu dilakukan agar segera mencapai tingkat harga yang diinginkan oleh pemain asing. Jadi kenaikan BBM itu tidak untuk rakyat dan tidak juga untuk menyelamatkan APBN.
Demikian disampaikan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, saat berbicara di depan ratusan peserta acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5).
Menurut Ismail, kesimpulan itu berdasarkan pernyataan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro yang ditulis di Kompas, 14 Mei 2003. Purnomo mengatakan, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”
Meski pernyataan itu sudah lama, tapi menurut Ismail kita baru menemukan faktanya sekarang. “Ini ironi, kita membeli minyak milik kita sendiri di halaman rumah kita, dengan harga yang ditentukan oleh asing, ” ujar Yusanto.
Saat ini saja, tambahnya, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Majalah Trust (edisi 11/2004), terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).
Hal yang sama juga disampaikan Ketua Serikat Pekerja Pertamina, Abdullah Sodik. Menurutnya, problem kelangkaan BBM itu sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya sistem yang diberlakukan pemerintah, yang membuka peluang privatisasi pengelolaan gas. “Serta memberikan kewenangan kepada perusahaan asing dan domistik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan dibiarkan juga untuk menetapkan harga, ” ujarnya.
Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen, ” terang Sodik.
Melihat fakta itu logis bila kemudian kita mengalami masalah dengan BBM. Logis pula bila rakyat banyak yang menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi itu. Sebab rakyat lah akan menjadi korban akibat kebijakan yang tidak populis ini.
”Saya juga tidak setuju kenaikan BBM, ” ujar Abdullah Sodik. “Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut, ” tambahnya.
Ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri, ” ujarnya.
Hendri mengatakan, kalau ada kenaikan harga minyak dunia, jika memang pemerintah itu akan menyelamatkan APBN maka semestinya pos yang boleh dikotak katik tidak hanya subsidi BBM. Karena kita punya pos-pos lain yang dalam kondisi darurat mestinya bisa direvisi. “Kenapa yang halal hanya subsidi BBM, kenapa pembayaran utang luar negeri menjadi tidak halal, ” ujar Hendri heran.
Ismail menegaskan ini semua terjadi karena adanya liberalisasi di sektor migas, yang merupakan bagian dari liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi sosial, budaya, pendidikan. Inilah yang harus dilawan. Sebab Indonesia makin hari makin menuju kepada negara liberal. “Dan siapa yang menjadi korban, kita semua, ” terangnya.
Solusi
Seperti dikatakan Hendri Saparini, pemerintah seharusnya tidak menaikan harga BBM, sebab masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN, terkait meningkatnya harga minyak dunia itu. Peserta Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38 mengusulkan solusi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah:
Pertama, pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun.
Kedua, pemotongan bunga utang 95 triliun,
Ketiga, Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM.
Keempat, membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.
Dan kelima, mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.
Terkait dengan wacana nasionalisasi perusahaan asing, Hendri Saparini mengatakan, “Kita memang selalu sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Padahal banyak fakta, ketika negara lain melakukan nasionalisasi tidak ada masalah…Fakta terbaru, Inggris barus saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju, ” ujar Hendri.
Bukan hanya nasionalisasi, kata Hendri, kita juga selalu ditakut-takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Padahal jawabannya tidak. “Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama. Bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga, ” ujar Hendri.
Ismail Yusanto mengatakan, kesalahan utama pengelolaan migas dan SDA kita adalah terjadinya transpormasi atau perpindahan dari State Business Management ke Coorporate Business Management. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengembalikan bagaimana agar entitas negara itu kembali menjadi pilar utama pengelolaan SDA, termasuk migas. Untuk itulah, katanya perlu dilakukan perubahan total atas UU migas dan PMA yang ada. Juga perubahan atas mind set ideologi yang ada. [LI/Abu Ziad]
Komentar oleh a. Rahman Isnaini r. Sutan — Mei 27, 2008 @ 4:19 am
saya mau tanya neh….. apakah pak kwik pernah menaikkan harga BBM waktu jadi menteri ?
Komentar oleh Paimin — Mei 27, 2008 @ 4:59 am
Ternyata pada zaman Megawati yang jadi menteri ESDM yang menaikan harga BBM adalah Purnomo Yusgiantoro…:) Sama dengan sekarang.
Menteri muka lama lainnya yang ada di zaman SBY adalah Boediono (Menteri Keuangan). Sepertinya KKG yang jadi Ketua Bappenas kalah pamor dengan Menko Perekonomian: Dorodjatun Kuntjoto-jakti dan juga Menteri Negara BUMN: Laksamana Sukardi yang banyak menjual BUMN.
http://groups.yahoo.com/group/tasik/message/2848
– “Tata S. Wirasasmita” schrieb:
Reporter: Yogi Arief , D Sangga B detikcom – Jakarta,
Tepat pukul 11.00 WIB,
Kamis
(9/8/2001) Presiden Megawati mengumumkan kabinetnya
di Istana Negara.
Susunan kabinet ini dinamakan Kabinet ‘Gotong
Royong’.
Berikut susunan kabinet selengkapnya:
Menko Polkam : Susilo B Yudhoyono
Menko Perekonomian: Dorodjatun Kuntjoto-jakti
Menko Kesra: Jusuf Kalla
Mendagri : Hari Sabarno
Menteri Luar Negeri: Hasan Wirayudha
Menteri Pertahanan: H Matori Abdul Djalil
Menteri Kehakiman: Yusril Ihza Mahendra
Menteri Keuangan: Dr Boediono
Menperindag : Rini MS Suwandi
Menteri Energi dan SDM: Purnomo Yusgiantoro
Menteri Perhubungan: Agum Gumelar
Menteri Pertanian: Bungaran Saragih
Menteri Kehutanan: M Prakosa
Menteri Kelautan dan Perikanan: Rokhmin Dahuri
Menteri Koperasi dan UKM : Alimarwan Hanan
Mendiknas : Malik Fadjar
Menteri Agama: Said Agil Munawar
Menteri Kesehatan: Ahmad Sujudi
Menakertrans : Jacob Nuwawea
Menteri Sosial: Bachtiar Chamsyah
Meneg Pariwisata: I Gede Ardika
Menteri Negara BUMN: Laksamana Sukardi
Menteri Negara Pemukiman dan Prasarana Wilayah :
Sunarno
Meneg Ristek : Hatta Rajasa
Menteri Negara Lingkungan Hidup: Nabiel Makarim
Meneg Peranan Wanita: Sri Redjeki
Meneg Informasi & Telekomunikasi: Syamsul
Muarif
Meneg Percepatan Pembangunan KTI: Manuel Kaisieppo
Meneg PAN : Faisal Tamin
Kepala Bappenas : Kwik Kian Gie
Sekretaris Negara/Sekretaris Kabinet: Bambang
Kesowo
Kepala Badan Intelejen Negara: AM Hendropriyono
Jaksa Agung: Ditetapkan setelah pelantikan
menteri.
Komentar oleh nizaminz — Mei 27, 2008 @ 6:46 am
Dari dulu hingga sekarang pemerintah tu sama aja!
tidak pernah terbuka mengenai semua perhitungan tersebut, sehingga rakyat dikalangan bawah yang ribut-ribut.
bagi yang kaya, seberapapun naiknya tetep saja gak ngaruh. tapi bagi rakyat kecil, semakin sengsara.
kapan pemerintah mau transparan dengan rakyatnya??? kapan-kapan!!!
Komentar oleh riefzu — Mei 27, 2008 @ 8:22 am
Sebagian Pro Pemerintah
Sebagian Pro Rakyat
Sebagian BERSEMANGAT Membela Rakyat !!
Sebagian MENYERAH Kalah Terhadap PEMERINTAH !!
MASALAH TIDAK AKAN SELESAI… YA MEMANG TIDAK AKAN SELESAI WONG RAKYATNYA SAJA TIDAK BISA BERSATU !!
Komentar oleh Legian — Mei 30, 2008 @ 7:02 pm
alhamdulillah, premium cuma jadi 6 ribu, dan paling-paling kalau naik lagi ya 8 – 12 ribu.
kenaikan bbm itu cuma salah satu dari beberapa faktor produksi. bahkan gaji pegawai/karyawan juga supaya dinaikkan oleh pengusaha, mestinya disubsidi oleh pemerintah ya, bukan pengusaha yang disuruh mensubsidi. cuma pusingnya, harga jual barang yang diproduksi nggak bisa dinaikkan harga jualnya, klo dinaikkan, nggak laku, nggak ada yang beli. piye yo, klo usaha dijual aja ke asing laku nggak ya, …. duh ampun…..
nulisnya lagi bingung nih…..
Komentar oleh parni — Juni 2, 2008 @ 5:58 am
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Doubloon
Komentar oleh Doubloon — Juni 19, 2008 @ 8:48 pm
jangan lupa : pemimpin harus berani……… membela rakyatnya, bukan membela rakyat negara lain
Komentar oleh Agung — Maret 7, 2009 @ 2:58 am
Satu keyakinan saya,kalau pemerintah sudah berpihak kepada Rakyat maka negara akan tumbuh menjadi negara yang maju bisa sejajar dengan bangsa2 lain,tapi syarat yang Tuhan mau dari Negara ini adalah uruslah orang2 miskinmu dulu maka Aku akan melimpahkan berkat bagi Bangsa Ini. Wahai para Pemeimpin,bertobatlah dan pakailah hati nuranimu….Ya Tuhan…Tolonglah Bangsa ini.Utuslah malaikatMu kepada para pemimpin kami dalam mimpinya dan sampaikanlah apa yang seharusnya mereka perbuat.
Komentar oleh Arthur Pattola — Maret 11, 2009 @ 1:49 pm