Info Indonesia

Mei 8, 2008

Perbandingan Harga Bensin Di Seluruh Dunia

Diarsipkan di bawah: Ekonomi, Kenaikan Harga BBM — nizaminz @ 6:44 am
Tags:

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. Di Venezuela harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp 8.700/liter.

Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.

AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia *1. Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464/liter sementara Cina Rp 5.888/liter.. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia (Cina penduduknya 1,3 milyar) .

Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp 6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara di AS US$ 980/bulan. Jadi Indonesia ini benar-benar mengikuti kemauan spekulan pasar/kaum Neoliberalis.

Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang sebanyak US$ 30/bulan. Memang rakyat miskin tidak punya mobil mewah, tapi mereka kan tetap harus pakai angkot atau sepeda motor. Dan itu pakai BBM!

Referensi:

1. http://worldnews.about.com/od/oilnaturalgas/tp/oil_imports.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_usage_and_pricing

Gasoline usage and pricing

Negara US$/Ltr Rp/Ltr Tanggal Sumber
Australia 1.37 12,604 4/23/2008 [1]/XE.com
Belgium 2.02 18,584 11/7/2007 [4][5][6]
Brazil 1.56 14,352 4/29/2008 [citation needed]
Canada 1.25 11,500 5/5/2008 GasBuddy/XE.com
China 0.64 5,888 5/5/2007 CNN Money/[2]
Croatia 1.73 15,916 5/5/2007
Cyprus 1.63 14,996 4/22/2008 for Unleaded 95[[3]
Denmark 2.15 19,780 4/21/2008
Egypt 0.25 2,300 7/25/2007 [8]
Finland 2.1 19,320 1/5/2008 [9]
Germany 2.28 20,976 4/20/2008 [10]
Greece 1.3 11,960 3/13/2006
Hong Kong 1.997 18,372 4/12/2008 Shell Hong Kong/[4]
Iceland 2.13 19,596 3/31/2008 Esso/[5]
India 1.22 11,224 10/3/2006
Iran 0.09 828 5/5/2007 CNN Money/[6]
Israel 1.91 17,572 5/1/2008 Israel Min. of National Infrastr.
Italy 1.93 17,756 11/8/2007
Japan 1.01 9,292 9/29/2006 CNN Money/[8]
Kuwait 0.21 1,932 4/3/2006 CNN Money/[9]
Malaysia 0.53 4,876 2/3/2006 Google exchange calculator
Mexico 0.62 5,704 5/5/2007 Banco de Información Económica
Netherlands 2.36 21,712 4/28/2008 Shell
New Zealand 1.44 13,248 4/20/2008 Pricewatch/fx.com on 2006-09-29
Nigeria 0.1 920 3/3/2005 CNN Money/[13]
Norwegia 2.52 23,184 4/14/2008 Shell/[14]
Pakistan 1.06 9,752 5/4/2008 PSO/[15]
Philippines 0.94 8,648 9/17/2007 Shell Philippines/[16]
Romania 1.67 15,364 4/15/2008
Russia 1 9,200 5/7/2008 [11]
Saudi Arabia 0.12 1,104 5/16/2007
Sierra Leone 4.87 44,804 5/1/2008 [18]
Singapore 1.37 12,604 1/2/2008 PetrolWatch/XE.com
Switzerland 1.65 15,180 12/19/2007
Sweden 1.96 18,032 1/3/2008 JET/
Thailand 0.69 6,348 1/13/2007 Nation Multimedia/[19]
Turkey 2.68 24,656 4/22/2008 NTV/[20]
Turkmenistan 0.08 736 11/25/2006 Turkmenistan.ru/[21]
UAE 0.45 4,140 5/4/2008
Ukraine 1.17 10,764 4/18/2008
United Kingdom 2.16 19,872 4/20/2008 petrolprices.com/XE.com
United States 0.92 8,464 4/19/2008 [12]
Venezuela 0.05 460 1/12/2008

63 Komentar »

  1. Indonesia memang negeri celaka. Sudah miskin, kini konsumsi minyak lebih besar ketimbang kemampuan produksi. Coba bandinkan juga dengan negara2 net importer..

    Komentar oleh fahry — Mei 8, 2008 @ 9:25 am

  2. Venezuela presidennya siapa ya?
    Tukaran mau nggak???

    –terima tukar tambah–

    Komentar oleh ompiq — Mei 8, 2008 @ 1:01 pm

  3. bapak membandingkannya dengan negara penghasil minyak terbesar dunia, terang saja harga minyak di negeri mereka murah. coba kita lihat di tabel, lebih banyak negara yang harga minyaknya lebih tinggi dari kita. Ingat, yang paling banyak mengkonsumsi minyak adalah mobil-mobil pribadi dan industri-industri besar. jadi selama ini memang subsidi minyak itu dinikmati oleh orang kaya. lagian, kalo harga minyak kita lebih rendah dari kebanyakan negara luar, akan banyak penyelundupan kan?

    kalo menurut saya sih harga minyak kita memang harus menyesuaikan dengan harga minyak dunia, tapi jangan drastis menaikannya, bertahap saja.

    Komentar oleh fatah75 — Mei 8, 2008 @ 3:46 pm

  4. Sebentar Mas, kalau memang negara dianggap pro spekulan itu pasti minyaknya tinggi, vice versa, lalu mengapa China dan Russia bisa tinggi begitu? Russia bukannya juga penghasil minyak dan gas?

    Komentar oleh hariadhi — Mei 8, 2008 @ 7:00 pm

  5. Hehew… kenapa yah? kayaknya negara2 yg minyaknya murah adalah negara penghasil minyak bukan…
    Perasaan dulu waktu SD guru saya bilang kalo Indonesia adalah negara penghasil dan pengeksor minyak…
    Seharusnya di Indonesia sini minyak kan murah, ibarat memetik buah dari kebun sendiri…
    Kayaknya pemerintah kita sekarang lagi “mendidik” masyarakatnya menjadi orang kaya, dengan membuat standart semua kebutuhan dimana semuanya hanya bisa dicapai oleh orang2 kaya…
    Semoga orang miskin (kurang mampu), bisa menjadi “kaya” dengan dinaikkannya harga BBM ini (maksud saya adalah kaya hatinya, bisa menerima keadaan yg semakin sulit ini, memaafkan mereka yg membuat semua menjadi tambah sulit) hehehew…

    Komentar oleh encyblogedia — Mei 8, 2008 @ 7:02 pm

  6. ya mungkin itu cara terbaik bagi pemerintah, walaupun itu cukup menyengsarakan Rakyat Kecil seperti saya ini,.. tapi kita tidak bisa berbuat apa2 pasrah aja dah!! ya mulai sekarang jarangin pake kendaraan, kan bisa lebih irit

    Komentar oleh wanagiri — Mei 9, 2008 @ 1:01 am

  7. asyiknya tulisan ini ada keterangan: negara mana yang dapat subsidi pemerintah dan mana yang ngak….

    Komentar oleh suciptoardi — Mei 9, 2008 @ 1:22 am

  8. wah, datanya boleh juga pak. kalau begitu salahnya di mana ya…. kok pemerintah mau menaikkan lagi harga bbm

    Komentar oleh Zulmasri — Mei 9, 2008 @ 1:25 am

  9. Udah dihitung belum, utk jumlah penduduk di negara2 tersebut?? Karena itu juga merupakan faktor pengali yg menambah beban subsidi. :)

    Komentar oleh CY — Mei 9, 2008 @ 1:26 am

  10. salam kenal.

    terimakasih untuk informasinya :)

    Komentar oleh arifrahmanlubis — Mei 9, 2008 @ 1:29 am

  11. Assalamu’alaikum…
    Makanya, bahan bakar alternatif harus segera diluncurkan!
    Jangan kalah sama Brazil dengan gasoholnya!!

    Komentar oleh ghaniarasyid — Mei 9, 2008 @ 2:35 am

  12. Sebetulnya hingga harga minyak Internasional menembus angka US$ 200/barrel pun Indonesia tetap untung. Jadi istilah subsidi BBM itu benar2 penipuan.

    Kenapa? Itu benar kalau Indonesia 100% mengimpor minyak. Tapi Indonesia memproduksi sendiri minyak 1 juta bph. Kebutuhan 1,2 juta bph. Dan impor 0,2 juta bph (ini kalau ekspor dan impor aneh ditiadakan karena Indonesia mengekspor 500 ribu bph meski kekurangan).

    Dengan biaya perolehan minyak dalam negeri US$ 15/barrel dan harga minyak Internasional US$ 200/barrel hingga total biaya untuk bbm impor US$ 215/barrel sementara harga jual sekarang Rp 4.500/liter (US$ 78/barrel) maka Indonesia tetap untung sekitar US$ 35 juta per hari.

    Ini matematika sederhana (untung dulu Matematika pernah dapat 9…:). Silahkan download spreadsheetnya di:
    http://www.mediafire.com/?4gdbwgez1gd

    Lihat di:
    http://infoindonesia.wordpress.com/2008/05/08/perbandingan-harga-bensin-di-seluruh-dunia/

    AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia. Lihat:
    http://worldnews.about.com/od/oilnaturalgas/tp/oil_imports.htm

    Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464 sementara Cina Rp 5.888. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia (jumlah penduduk Cina 1,3 milyar) dan UMR penduduk AS jauh lebih besar dari Indonesia.

    Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp 6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara di AS US$ 980/bulan.

    Untuk bioenergi saat ini saja sudah terasa dampak negatifnya dengan naiknya harga2 pangan (contoh minyak goreng naik dari Rp 6.000/kg jadi Rp 16.000/kg) karena akhirnya lahan bukannya dipakai untuk pangan justru untuk BBM. Akibatnya pangan jadi langka dan mahal. Harga pangan akan naik mengikuti BBM karena jika harga BBM tinggi, petani akan menanam tanaman bioenergi ketimbang padi, jagung, dan singkong. Ingat tanah juga terbatas sementara jumlah penduduk terus bertambah.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 9, 2008 @ 3:09 am

  13. akan menjadi lebih fair
    jika Anda mencantumkan juga
    perbandingan daya beli dari tiap-tiap negara (PPP)

    kita ambil contoh saja,
    di Australia harga minyak $1,37/ltr = Rp12604
    di Indonesia Rp4500

    fee buruh kasar di Indonesia Rp10.000-Rp40.000/hari (8jam)
    sedangkan di Australia dengan bekerja 1jam =$1

    begitu

    Komentar oleh azizie — Mei 9, 2008 @ 3:27 am

  14. sudah saatnya orang2 di negri ini kreatif, mengembangkan energi alternatif spt yg dilakukan seseorang di jogya, menggunakan air sbg ganti premium dan sdh di pake hngga limaratusan kendaraan brmotor. atau mengolah limbah mnjadi biogas. penemuan2 ini sebaikny ditindak lanjuti pengembanganya oleh pmerintah secara serius dan dimasyarakatkan.

    Komentar oleh lisfres — Mei 9, 2008 @ 6:29 am

  15. sepertinya contoh yang dipake cuma dari negara-negara OPEC? ya jelas beda la bang,
    kita kan bukan negara opec, meski ada nama Indonesia tapi kita kan cuma anggota tipu-tipu ga bisa ekspor!, mereka kan malah senang haraga minyak naik seperti Indonesia tahun 70an gitu,,
    Datanya lengkap tapi kenapa ga sekalian dibandingkan dengan negara-negara non OPEC yang jelas” juga sama ato bahkan lebih mahal dari punya kita,,

    Komentar oleh petak — Mei 9, 2008 @ 7:32 am

  16. Dibandingkan dengan importir minyak terbesar dunia seperti AS dan Cina juga harga Pertamax yang Rp 8.700 itu sudah kemahalan.
    Indonesia itu produksi minyak 1 juta bph dengan cost hanya US$ 15/barrel dan harga jual saat ini US$ 78/barrel. Kebutuhan hanya 1,2 juta bph. Jadi hingga harga minyak internasional naik sampai US$ 200/barrel pun Indonesia tetap untung.

    Oleh karena itu Kwik Kian Gie bilang subsidi BBM itu tidak ada.
    http://www.koraninternet.com/web/cetak.php?id=3760
    Silahkan download file simulasi BBM yang saya berikan untuk membuktikan itu. Ini cuma masalah matematika sederhana. Sayang tidak banyak rakyat Indonesia yang bisa.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 9, 2008 @ 8:19 am

  17. Cuma mau ngucapin satu hal: Indonesia keluarlah dari OPEC! Nggak ada guna jadi jongos negara-negara lain di sana :(

    Komentar oleh alex® — Mei 9, 2008 @ 10:04 pm

  18. Lho, pak, pertamax dan saudaranya itu bahan bakar khusus lho.. gak bisa di samain sama bensin biasa… oktannya aja 94 lho.. jangan bilang kalo perbedaan oktan gak pengaruh ke harga..

    trus produksi minyak Indonesia sekarang cuman 977.000 barrel per hari (april 2008) lho… data hampir akurat

    Komentar oleh Ari Wibowo — Mei 9, 2008 @ 10:55 pm

  19. Hebat hebat sekarang pejabat negara kita….alasan gak sanggup lagi untuk menanggung subsidi digunakan untuk mempertebal kantong masing2 anggota yg terkait…dari dulu ada semboyan…”Membina BangsaKu” lebih mirip dech “Membina BankSaku”…
    negara penghasil minyak koq malahan mahal minyaknya….kemana ya minyak yg disedot dari Tanah BankSAKU kita??????????????

    Komentar oleh komeng — Mei 11, 2008 @ 4:04 pm

  20. mas, harga bbm di amrik sekarang udah nyampe 4$ (dari sebelumnya 3,44$) atau kalo jadi rupiah kurs 9.300 jadi 37.200

    Komentar oleh adi — Mei 11, 2008 @ 4:16 pm

  21. Coba lihat di situs pemerintah AS, Energy Information Administration. Di Denver harga bensin hanya US$ 3,468/GALLON (1 gallon=3,785 liter). Jangan kelirukan gallon dengan liter karena itu beda!
    http://www.eia.doe.gov/oil_gas/petroleum/data_publications/wrgp/mogas_home_page.html

    Artinya per liter dengan Kurs Rp 9.200 harga bensin di sana Rp 8.400/liter.
    Dan GNP per kapita di AS adalah US$ 37 ribu dollar/tahun sementara kita hanya US$ 810/tahun. AS adalah importir minyak terbesar di dunia.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 12, 2008 @ 3:20 am

  22. Dari teman saya yang tinggal di Inggris, kualitas gasoline (bensin) di Eropa seperti Inggris itu sama dengan Pertamax Plus. Jadi wajar jika harganya mahal seperti Pertamax Plus:

    > From: Eko Kurniawan [mailto:ekokurniawan@yahoo.com]
    > Sent: Thursday, May 08, 2008 7:09 PM
    > To: mifta-perjuangan@yahoogroups.com
    > Subject: Re: [mifta-perjuangan] OOT Perbandingan Harga Bensin
    > di Seluruh Dunia
    >
    > Kemarin sore saya beli bensin unleaded harganya 107.9 pence
    > (1.079 Pound) per liter, ini belinya di tempat paling murah
    > di kota saya tinggal. Kalau di London sekitar 115-120 pence
    > per liter. Tapi perlu diingat disini bensin standard yang
    > dijual adalah RON95 (Setara Pertamax Plus di Indonesia). Ini
    > udah tipe paling rendah di UK.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 12, 2008 @ 9:45 am

  23. Makanya kalau mau ada pemerataan, lebih baik ajak dong para orang kaya seIndonesia untuk mengadakan Transportasi murah di seluruh Indonesia agar kita nggak tergantung dari sepeda motor, mobil butut dan vespa Pakde lagi agar konsumsi BBM nggak dihabisin sama Sepeda Motor dan Mobil Pribadi orang seIndonesia. Salam kenal http://economatic.wordpress.com/

    Komentar oleh economatic — Mei 14, 2008 @ 4:15 pm

  24. dubai sudah mulai beralih dr negara pengekspor minyak menjadi negara pariwisata..
    semua duit yg ada mulai dialokasikan untuk ngerubah dubai jd negara wisata terindah di arab.
    knp Indonesia yg minyaknya udah jelas2 mulai seret ga nyari pendapatan baru?

    apa karena Indonesia sebagai negara penghasil minyak mentah sama sekali tidak mempunyai pabrik pengolahan minyak? (eh punya ga sih? soalnya setahu gw minyak mentah di ekspor utk di olah baru dibeli lagi oleh Indo)

    gara2 kebijaksanaan yang menguntungkan kantong pribadi jadi senegara berantakan…..

    Komentar oleh woelank — Mei 14, 2008 @ 4:19 pm

  25. Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak, antara lain:

    * Pertamina Unit Pengolahan I Pangkalan Brandan, Sumatera Utara (Kapasitas 5 ribu barel/hari). Kilang minyak pangkalan brandan sudah ditutup sejak awal tahun 2007
    * Pertamina Unit Pengolahan II Dumai/Sei Pakning, Riau (Kapasitas Kilang Dumai 127 ribu barel/hari, Kilang Sungai Pakning 50 ribu barel/hari)
    * Pertamina Unit Pengolahan III Plaju, Sumatera Selatan (Kapasitas 145 ribu barel/hari)
    * Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap (Kapasitas 348 ribu barel/hari)
    * Pertamina Unit Pengolahan V Balikpapan, Kalimantan Timur (Kapasitas 266 ribu barel/hari)
    * Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan, Jawa Barat (Kapasitas 125 ribu barel/hari)
    * Pertamina Unit Pengolahan VII Sorong, Irian Jaya Barat (Kapasitas 10 ribu barel/hari)
    * Pusdiklat Migas Cepu, Jawa Tengah (Kapasitas 5 ribu barel/hari)

    Semua kilang minyak di atas dioperasikan oleh Pertamina.

    Saran saya Pertamina juga menggarap BBM alternatif seperti hydro fuel Banyugeni atau Blue Energy. Sebentar lagi fossil fuel habis atau tidak dipakai lagi karena polusi dll, jadi sudah saatnya diversifikasi.

    Komentar oleh Bara — Mei 15, 2008 @ 6:36 pm

  26. YA… KARENA KITA NAMBAH TERUS KEPEMILIKAN MOTOR SIH,… KAN BAHAN BAKARNYA PAKE BBM.
    COBA AJA KALO KITA BUDAYAKAN KAYA DULU… NAIK SEPEDA ONTHEL… GAK POLUSI TUR NGIRIT…

    Komentar oleh COLIS — Mei 16, 2008 @ 9:35 am

  27. Mana ada subsidi-subsidian… Wong minyaknya milik Indonesia sendiri…
    Retorika subsidi cuma tipu-tipu pemerintah dan agen-agen nya saja…
    Agen-agen imperialis…

    Komentar oleh wartawan — Mei 16, 2008 @ 2:46 pm

  28. Saat ini adalah saat yang oleh para ekonom internasional disebut sebagai
    “the most exciting time to be an economist” situasinya hampir sama
    seperti pada akhir 1920-an saat terjadinya “Great Depression” yang
    berujung pada perubahan mendasar sistem global. Saat ini dunia dihantam
    secara beruntun oleh credit crunch perumahan dan kartu kredit di AS,
    serta kenaikan komoditas energi dan pangan secara bersamaan.

    Walaupun Indonesia tidak terlalu terkena dampak dari krisis keuangan di
    AS, tapi kita jelas terkena dampak akibat naiknya harga komoditas energi
    dan pangan, karena Indonesia sayangnya termasuk sebagai negara pengimpor
    BBM dan beras, dan lebih parahnya lagi, Indonesia menghabiskan sebagian
    besar APBNnya untuk mensubsidi konsumsi BBM dalam negeri.

    Secara rasional ekonomi, dalam kondisi seperti ini hampir tidak ada
    jalan lain bagi pemerintah selain mengurangi subsidi BBM yang tidak
    tepat sasaran dan mengalihkannya ke sektor yang lebih produktif dan
    bermanfaat bagi masyarakat khususnya kaum miskin. Namun sayangnya
    kondisi menjelang pemilu seperti saat ini menjadikan isu ini sangat
    kental dipengaruhi unsur politis dan banyak parpol akan memanfaatkan
    kondisi ini untuk memobilisasi suara massa walaupun kalau mereka
    berkuasa mereka juga tidak punya pilihan lain selain menghapus subsidi
    BBM.

    Nah, sebelum ikut demo menentang ‘kenaikan harga BBM” (atau lebih
    tepatnya pengurangan subsidi BBM), mari kita simak beberapa hal:

    1. Negara-negara yang masih memberlakukan subsidi BBM punya beberapa
    kesamaan karakteristik:
    (a) net exporter minyak, sehingga mereka bisa imbangi subsidi minyak
    rakyatnya dengan revenue dari ekspor minyak (walaupun tidak peduli apa
    yang akan terjadi ketika cadangan minyak mereka sudah menipis).
    (b) rejim otokratik (terlepas apakah mereka sosialis populis seperti
    venezuela atau diktatorian seperti mesir dan arab saudi), dan subsidi
    minyak adalah metoda paling efektif untuk meraih dukungan rakyat
    (walaupun sebetulnya penikmat terbesar subsidi tersebut adalah middle
    class & elit)
    (c) sistem ekonomi tertutup (pembatasan ketat pemerintah terhadap arus
    ekspor impor), sehingga mereka tidak perlu terlalu khawatir dengan
    resiko penyelundupan BBM subsidi keluar negeri, walaupun kenyataannya
    pasti akan terjadi juga seperti di Nigeria.

    Bagaimana dengan Indonesia? Walaupun secara total kita masih net
    exporter gas alam, tapi kita adalah net importer BBM (karena struktur
    industri kita selama puluhan tahun adalah mayoritas oil fuel based
    sebagai warisan kesalahan regim sebelumnya). Namun kita perlu bersyukur
    karena punya sistem politik yang demokratis sehingga ada debat publik
    yang jauh lebih transparan dan bermutu mengenai perlu tidaknya kita
    mempertahankan subsidi BBM. Dan yang terakhir adalah karena kita
    menganut sistem ekonomi yang terbuka dan secara riil sebagai negara
    kepulauan kita tidak akan pernah bisa menjamin bahwa BBM subsidi tidak
    akan diselundupkan ke singapura atau malaysia seperti yang terjadi
    selama 40 tahun terakhir.

    2. Sekarang kita lihat pokok permasalahannya. Dengan asumsi harga minyak
    95$ per barel (padahal saat ini harganya sudah 120$ perbarel), subsidi
    BBM mencapai lebih dari 130 trilyun rupiah (bandingkan dengan subsidi
    pangan yang tidak sampai 9 trilyun rupiah) dan harus dibayar dari APBN
    yang berasal dari pajak yang ditarik dari seluruh rakyat Indonesia. Dan
    siapa yang menikmatinya? Beberapa studi independen menunjukkan bahwa 90%
    subsidi BBM dinikmati oleh 10% rakyat Indonesia yang berasal dari dari
    kalangan menengah-atas. Bahkan ketika subsidi BBM dikurangi di tahun
    2005, kenaikan jumlah orang miskin bukan disebabkan oleh harga BBM yang
    lebih mahal, tapi oleh kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya
    (karena kenaikan harga komoditas pangan global).

    Jawab secara jujur, ketika kita mengisi bensin di pom, berapa banyak
    pemilik mobil pribadi yang memilih BBM non-subsidi (petramax) dan
    bukannya premium yang disubsidi oleh seluruh rakyat yang sebagian besar
    bahkan tidak pernah bermimpi untuk punya mobil? Para pemilik rumah mewah
    dengan AC di tiap kamar dapat menikmati subsidi BBM yang jauh lebih
    besar, juga para pemilik dan pengunjung mall, bioskop dan pusat2
    perbelanjaan. Adilkah itu? Anehkah bahwa kuota tahunan BBM bersubsidi
    terlampaui hanya pada beberapa bulan pertama dan penggunaan BBM
    non-subsidi tidak meningkat signifikan? Pernahkah bertanya kenapa di
    wilayah sepanjang perbatasan dengan malaysia dan singapura sering
    terjadi kelangkaan BBM walaupun pertamina bersikeras bahwa jumlah yang
    didrop ke daerah tersebut sudah sesuai perhitungan demand? Pernahkah
    nasionalisme terusik ketika fakta menunjukkan bahwa subsidi BBM justru
    dinikmati oleh pengusaha2 di Singapura & Malaysia? Memang bahwa kita
    seharusnya mengawasi lebih ketat wilayah perbatasan, tapi realitanya
    ongkos untuk bisa efektif mengawasi sepanjang wilayah perbatasan kita
    mungkin jauh lebih mahal dari total subsidi BBM.

    3. Di sisi lain sangat aneh ketika kita berteriak untuk menyelamatkan
    bumi dari pemanasan global, kita justru tetap mempertahankan subsidi
    BBM. Tahukah teman-teman bahwa ketika pemerintah mengurangi subsidi BBM
    di tahun 2005, Indonesia dapat mengurangi 50% jumlah emisi karbon yang
    dihasilkan dan hal itu merupakan rekor dunia? Dan efek positif lainnya
    efisiensi pemakaian BBM per kapita dan di kalangan industri juga
    meningkat. Coba lihat di Venezuela dan Nigeria, dimana rakyatnya
    menghambur-hamburka n BBM dengan memilih kendaraan yang boros bahan
    bakar, dan kalangan industri juga tidak berusaha meningkatkan efisensi
    produksi mereka.

    4. Saat pemerintah mengurangi subsidi BBM thn 2005, di tahun 2006 kita
    mendapatkan “fiscal space” sebesar hampir 150 trilyun rupiah. Dana
    tersebut dipakai untuk meningkatkan pengeluaran pembangunan sebesar 20%,
    meningkatkan subsidi pemerintah pusat ke daerah sebesar 32%, mengurangi
    secara drastis utang luar negeri kita, dan meningkatkan cadangan devisa.
    Pernahkah kita bayangkan kalau subsidi BBM saat ini sebesar 130 trilyun
    per tahun itu sebetulnya dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur
    di seluruh Indonesia, menambah investasi bagi penggunaan energi bersih
    (geothermal, solar, windpower), memperbaiki pelayanan air bersih bagi
    masyarakat kota, menyediakan kredit lunak bagi jutaan pengusaha mikro,
    bantuan susu dan suplemen gratis buat para balita, atau memberikan
    pendidikan dan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat?

    5. Jika pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi
    BBM, memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang
    bertanggungjawab dan tidak hanya mengejar popularitas. Tapi yang juga
    wajib diperhatikan adalah bagaimana pemerintah mengantisipasi dampak
    kenaikan harga akibat penghapusan subsidi BBM tersebut, khususnya bagi
    rakyat miskin. Jadi daripada memperdebatkan perlu tidaknya menghapus
    subsidi BBM kenapa kita tidak justru mendiskusikan bagaimana
    meminimalisir dampak kenaikan harga terhadap rakyat, apakah melalui
    subsidi tunai, cash for work, asuransi kesehatan dan pendidikan, dsb.

    Nah, jadi daripada kita demo untuk “tolak kenaikan BBM!” bagaimana kalau
    kita demo untuk “alihkan subsidi BBM menjadi pendidikan dan kesehatan
    gratis untuk rakyat!” dan daripada memobilisasi demo ke istana bukankah
    lebih baik memobilisasi mahasiswa dan elemen masyarakat untuk mengawasi
    penyaluran subsidi langsung kepada rakyat miskin? Saya bermimpi suatu
    saat mahasiswa Indonesia naik ke tahapan demokrasi selanjutnya yaitu
    partisipasi dalam implementasi kebijakan publik dan tidak hanya terjebak
    dalam “romantika demonstrasi” . Lagipula jamannya sudah beda, dulu di
    jaman Orba kita berdemonstrasi karena saluran politik tersumbat sama
    sekali, tapi sekarang kita sudah punya kebebasan media dan sistem
    pemerintahan yang sudah sangat berbeda.

    PS: Oh ya, perlu diklarifikasi email sebelumnya mengenai perbandingan
    harga BBM. Sejak 2004-2006 saja malaysia telah 5 kali mengurangi subsidi
    BBM. Saat ini harga petrol di Malaysia sekitar 0.7$ perliter atau
    Rp6.500 (kurs 9000/$) dan pemerintahnya juga sedang mempertimbangkan
    penghapusan lebih lanjut subsidi BBMnya. China juga sedang
    mempertimbangkan mengurangi subsidi BBM karena menyedot ratusan trilyun
    anggaran pertahunnya. Harga BBM di AS relatif masih di bawah harga
    seharusnya karena lobby industrialis otomotif mereka yang akan terpukul
    apabila harga BBM naik. Malaysia mungkin bagus buat perbandingan public
    policy, tapi tolong jangan bandingkan Indonesia dengan Venezuela,
    Nigeria atau Saudi! Tidak comparable sama sekali.

    Komentar oleh Herfan Brilianto — Mei 17, 2008 @ 11:17 am

  29. untuk produksi minyak itu perlu biaya (eksplorasi,distribusi dll.) jadi dari kalau dibilang harga minyak dunia naik maka indonesia untung itu nggak benar, sudah saatnya kita sadar bahwa BBM itu sumber daya alam yang tidak terbaharukan artinya dengan pertambahan jumlah penduduk konsumsi naik tetapi produksi tetap bahkan berkurang.

    Komentar oleh aries — Mei 18, 2008 @ 3:47 pm

  30. eh keliatannya ada yang kurang dari tabel itu seperti mutu BBM tiap negara.
    kan bensin itu mutunya berbeda-beda. coba kalo ada jadinya bisa di analisa lebih baik.

    Komentar oleh gil4ng — Mei 19, 2008 @ 2:51 am

  31. Pemerintah .. kita2 juga yank pilih …
    Presiden … kita2 juga yank pilih …

    begitu problem … kita2 juga yank salahin …

    ahh … aneh …. ^^

    Komentar oleh Denny Lim — Mei 23, 2008 @ 10:53 am

  32. ini dampak keserakahan para pejabat kita, kenapa sektor sektor industri terpenting malah di jual kepada asing, apakah memang SDM negeri ini rendah, mungkin ini menjadi suatu kajian dari pemerintah, jangan sampai negeri yang kita cintai ini terjual kepada oang asing pula,

    Komentar oleh osmon — Mei 23, 2008 @ 3:41 pm

  33. Kynya mahasiswa drpd demo mending blajar n research energy alternatif bahan bakar. Liat aja Pak Joko org yogja yg bikin energy dr air buat motorny, dy sekolah cuma SMP tp bisa buat energy alternatif. Nah itu mahasiswa uda kuliah mending nyumbang ilmunya buat negara. Jgn tong kosong nyaring bunyinya.

    Komentar oleh Nia — Mei 24, 2008 @ 2:01 pm

  34. maunya sekalian dibandingin ama Pendapatan Per Kapita

    Komentar oleh myman03 — Mei 26, 2008 @ 6:25 am

  35. maksud saya 1 liter = 4 dollar

    Komentar oleh Junarto — Mei 26, 2008 @ 11:53 pm

  36. Pak Junarto, di AS harganya bukan 4 dollar per liter. Itu per gallon. 1 gallon = 3,785 liter. Kalau mau tahu 1 gallon berapa liter bisa download programnya di:
    http://infoindonesia.wordpress.com/category/download

    Coba lihat harga bensin di AS per gallonnya di:
    http://www.eia.doe.gov/oil_gas/petroleum/data_publications/wrgp/mogas_home_page.html

    Rata2 US $3,791/gallon (19 Mei 2008 ) atau Rp 9.214/liter. Itu sudah termasuk pajak sekitar Rp 1.500/liter.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 27, 2008 @ 1:14 am

  37. Kawan-kawan,

    apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan sederhana ini:

    MENGAPA KITA HARUS MENGIKUTI HARGA MINYAK DUNIA? (untuk Indonesia, kata pak Luluk Sumiarso, mengikuti mid flat oil price singapore)

    APA RESIKONYA JIKA KITA MEMATOK SENDIRI HARGA MINYAK KITA SESUAI KEMAMPUAN ATAU DAYA BELI MASYARAKAT KITA?

    Terima kasih,

    wassalam,

    Komentar oleh susan — Mei 27, 2008 @ 3:55 am

  38. wah, yang di headlinekan jangan negara2 tersebut donk, venezuela, iran, dan sejenisnya..
    ya iyalah murah bbmnya, secara negara tersbut jor2an ngasilin minyaknya, ekonominya stabil
    lah kita, minyak masi ngimpor buat nutupin konsumsi orang indonesia sendiri,
    uda gitu pendidikan bermasalah, kelaparan dimana-mana, semua minta disubsidi
    duit dari mana boi ???
    wajarlah dianaikin, $135/barrel means 1lt=7000an, tambah ongkos proses ~700, jadilah 7700,
    klo harga masih 4500an artinya negara nombokin ampir 3000/lt, bisa bangkrut negara kita
    bbm protes, tetep aja rokok sehari sebungkus (Rp10.000)
    (ga konkruen ah..)

    Komentar oleh tomioke — Mei 27, 2008 @ 9:28 am

  39. Ya..Ga ada yg perlu disalahkan..
    Membangun negara tu kan sulit..Makanya ntar kalo sy puny anak lebih baik jangan bercita2 jadi presiden..Soalnya kalo udah kejadian kaya gini kan takutnya presiden disumpahi jutaan rakyat miskin..^^
    tanggung jawabnya besar..

    Komentar oleh Malik — Mei 27, 2008 @ 12:13 pm

  40. duuh bener2 pusing dehh.. cikgu pernah tinggal di tabalong kalsel.. sebagai kota penghasil minyak, tapi minyak pada lari kemana yaahh?? masa pada bulan desember 2007 harga premium eceran menembus Rp15000/ liter.. pom ben sin ngantri, cuman buka 2 jam abis tuuh dah habis.. sempet jengkel juga pada saat pemerintah mewajibkan mobil pribadi pake pertamax. pertamax terdekat harus di tempuh 96kilo. sekarang cikgu tinggal di balikpapan, yang notabene brunainya indonesia.. sebagai penghasil minyak yang gede juga.. tapi minyak pada kemana siii?? masa bulan april hingga mei 2008.. cari premium aja susah.. ngantri lagi.. yang pada tinggal di jawa kayaknya menyenangkan ya?? demo2 terus.. premium mau naik aja ngga ada gejolak.. adanya demo2 ngga ada hasil..

    Komentar oleh guru alam — Mei 28, 2008 @ 9:21 am

  41. nizaminz..

    anda jangan memprovokasi rakyat.. dari data yang anda tulis diatas hanya 6 dari 44 negara yang harganya berada dibawah Indonesia.. artinya hanya +-14%.. apakah anda pikir 38 negara lainnya tidak ingin bbm rendah? artinya 6 negara itu adalah titik ekstrim dalam data..

    anda tidak bisa hanya menuliskan nilai akhir yang keluar (yaitu harga) saja.. anda juga harus menuliskan apa penyebab mereka bisa seperti itu..
    sebagai analogi.. ada orang A dan B.. A memiliki IPK(indeks prestasi kumulatif saat kuliah) 3,2.. lalu si B 2,8.. apakah dengan informasi ini anda bisa menyimpulkan bahwa B lebih baik dari A??
    tidak bisa seperti itu.. anda butuh data tambahan, contohnya dalam hal ini, dimana mereka kuliah? ternyata si A kuliah di Universitas gadungan, dan B di Universitas yang top. disini nilai ipk menjadi terlihat relatif.. karena kita butuh mengetahui proses..

    /////////////////////////////////////////////////////////////////////////
    dalam permasalahan BBM ini.. anda bisa melihat data tambahan disite dibawah ini, mudah2an anda menjadi lebih fair dalam menilai:

    http://priyadi.net/archives/2005/09/30/harga-produksi-dan-konsumsi-bbm/

    Komentar oleh meidy — Mei 28, 2008 @ 10:44 am

  42. Kenapa Inggris yang produksi minyaknya 1,6 juta barel perhari harga bensinnya hampir Rp 20.000/ liter? Kenapa Norwegia yang produksi minyaknya 2,8 juta barel perhari Rp 23.000/ liter? Kenapa Brazil yang produksi minyaknya 2,1 juta barel perhari bensinnya 14ribu perliter? Kenapa Indonesia yang produksi minyaknya minus 400ribu barel perhari harga bensin 6ribu perliter? Ada yang bisa jawab?

    Komentar oleh indra — Mei 28, 2008 @ 4:30 pm

  43. Hmm.. yg harus dilakukan sekarang ialah bersabar,meski orang2 gede pada nikmatin penambahan gendut perut mereka dan orang2 kecil menikmati makin melilitnya perut mereka, (hal ini bisa terjadi karena naiknya harga bbm memicu inflasi yang tingginya gak wajar, inflasi menyebabkan orang kaya yg punya banyak investasi berupa barang/sumber daya alam makin kaya sedangkan orang miskin yang g punya investasi apa2 selain investasi utang,harus lebih sering berpuasa) namun setiap keputusan yang diambil oleh orang yang berkuasa di dunia ini (daripada nyebutin Indonesia) harus di pertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa kelak. hal lain yng harus kita lakukan sekarang yaitu berdoa& menyusun strategi agar UUD’45 benar2 dilaksanakan dg benar di negeri ini sehingga SDA Indonesia benar2 dipakai untuk mensejahterakan seluruh masyarakat&bangsa Indonesia tanpa terkecuali secara adil&tak pandang bulu.

    Komentar oleh Prayitno — Mei 29, 2008 @ 1:41 am

  44. Bu Meidy, ini sekedar memaparkan data. Rakyat cukup cerdas untuk tidak tertipu oleh data2 palsu. Apalagi pengguna internet rata2 cukup intelek. Toh referensi dan link yang diberikan cukup jelas.

    Konsumsi minyak Indonesia 1,2 juta bph (EIA), produksi 1 juta bph dan impor 0,2 juta bph. Artinya dengan biaya pengolahan untuk 1 juta bph produksi domestik sebesar US$ 15/barrel dan US$ 140/barrel untuk 0,2 juta bph impor pada harga Rp 4.500/liter pun Indonesia sudah untung.

    Kita tidak berharap harga bensin di Indonesia sama dengan di Venezuela yang hanya Rp 460/liter. Tapi mohon minimal untuk supir angkutan umum dan nelayan yang pakai BBM paling banyak harga jangan dinaikkan. Jangan ambil untung terlalu besar dari rakyat kecil.

    Saat ini banyak nelayan tidak melaut karena harga BBM sudah terlalu tinggi. Sebagai contoh di Ternate disiarkan di TV sudah seminggu mereka tidak melaut.

    Kenapa Inggris, Norwegia, dan Brazil harganya cukup tinggi?
    Menurut Bank Dunia GDP Inggris USS 39.257/tahun, Norwegia US$ 71.876/tahun, Brazil US$ 5.638/tahun. Brazil sudah jadi net importer:
    http://tonto.eia.doe.gov/country/country_energy_data.cfm?fips=BR

    Sementara Indonesia hanya US$ 1.636/tahun. Itu pun Indonesia penuh kesenjangan karena Bakrie saja kekayaannya Rp 50 trilyun sementara Sukanto Tanoto Rp 40 trilyun lebih. Mayoritas rakyat Indonesia gajinya hanya sekitar UMR yang Rp 972 ribu sehingga kalau 1 keluarga ada 4 orang (2 anak) tiap orang pendapatannya hanya sekitar US$ 360/tahun. Keluarga Basse yang mati kelaparan di Makassar penghasilannya hanya Rp 5 ribu-10 ribu per hari atau sekitar US$ 74/tahun per orang.

    Jadi kasihan kalau harga barang di Indonesia harus disamakan dengan di Inggris atau Norwegia. Samakan dulu pendapatannya atau minimal separuhnya baru bisa.

    Barangsiapa tidak memperdulikan keadaan kaum muslimin maka dia bukan termasuk dari mereka. (HR. Abu Dawud)

    Kalau secara nasional kita pahami bahwa orang yang tak peduli dengan nasib bangsa Indonesia maka bukan termasuk bangsa Indonesia.

    Komentar oleh nizaminz — Mei 29, 2008 @ 2:18 am

  45. Saya di bogor yg alias kota angkot, dan melihat angkot2 di bogor itu byk sekali dan kosong. Saya rasa lbh baik mengurangi jumlah angkotny khusus di bogor. Krn ada kenaikan bbm atau tdk tetap saja penumpangny kosong. Dan itu pemborosan BBM selain krn tdk tertibny angkot sehingga membuat kemacetan. Sehingga dmnpun jalur angkot pasti macet.

    selain itupun kl angkot penuh pendapatan supir pun bertambah sehingga saya rasa tdk perlu ada kenaikan tarif.

    Komentar oleh Nia — Mei 29, 2008 @ 5:52 am

  46. Ada kata2 bagus dr Prof. Yohanes Surya Ph.D (fisikawan pembina tim olimpiade fisika Indonesia)
    Dy bilang begini dalam sebuah buku “Dalam dunia sains, banyak penemuan besar terjadi karena adanya masalah. Tanpa masalah dunia ini terasa hambar dan tidak akan muncul penemuan2 besar dan orang2 besar.”

    Komentar oleh Nia — Mei 30, 2008 @ 3:06 pm

  47. mas… itu produksi 1 juta itu data dari mana sih? Tahun berapa? Saya baca di banyak koran bukannya sudah tinggal 900 ribuan?

    Komentar oleh hariadhi — Mei 30, 2008 @ 6:56 pm

  48. produksi minyak 1juta itu kan pembulatan aja, supaya lebih gampang dan mudah dimengerti. klopun dibuat 900rb toh perhitungan tidak akan jauh beda. klo mau liat data produksi minyak indonesia sekarang bisa liat di http://www.bpmigas.com/CMS/my_documents/my_files/j41Qhu6GGb3El28BkvF6.htm#a

    disitu disebutkan “Produksi rata-rata pada Januari 2008 mencapai 955.847 bph. Angka tersebut meningkat lagi menjadi 986.848 bph pada Februari kemudian turun menjadi 985.872 bph pada Maret. Sedangkan pada bulan April dan Mei, angka produksi kembali meningkat lagi, masing-masing 973.137 bph dan 989.880 bph.”

    so, apakah salah klo dibulatkan jadi 1jt bph????

    anda yang setuju bbm naek, pastilah orang2 yang berduit, coba bayangkan bila anda jadi orang miskin. bbm naek, anda mau makan apa?, yg nelayan melaut ga bisa, yg petani pupuk naek, malah gak ada stok. 100rb perbulan? bisa bantu ampe kapan? itupun klo masuk daptar penerima blt.

    klo mau hilangkan subsidi utk orang mampu kan gampang. tinggal ditempel aja tulisan diseluruh pom bensin, semua mobil pribadi harus pake pertamax. yang kemaren jerigen aja bisa pake cara itu kenapa klo kendaraan musti pake smart card?.
    klo takut ada angkot maen, beli premium banyak trus dia jual lagi, tinggal hukum aja ditegakkan, berikan insentif buat masyarakat dan penegak hukum supaya mengontrol. daripada sekarang bbm naek, hasilnya sebagian besar buat pasang iklan pemanis dimana2, dan dibagi cuma2 malah gak ada manfaat buat kedepan.
    ato inikah money politics gaya baru. “enak kan gw jadi presiden, tiap bulan lo lo pade gw kasi 100rb. makanya besok pilih gw lagi ya”

    Komentar oleh sableng — Mei 31, 2008 @ 2:38 pm

  49. hmm……

    ada pro dan kontra yha ……

    d satu disisi bila kita perhatikan keterangan d atas hanya berupa statistik saja ……

    bukan saya meragukan keakuratan nya tetapi untuk ukuran indonesia data statistik saja bisa di atur data nya agar terlihat menarik ataupun terlihat mengecewakan.

    ada yg udah liat kmrin d sctv? soal pnambangan secara pribadi mereka mengklaim untuk membuat BBM dr crude oil biaya produksi nya tdk mahal hanya Pertamina saja yg tidak mengefesiensi cara/metode produksi pembuatan BBM.

    saya rasa dudah seharusnya pemerintah mengaudit sumber2 kebocoran yg ada d pertamina guna menekan biaya produksi BBM yg menurut mereka tinggi.

    AFAIK

    Indonesia merupakan negara penghasil crude palm oil terbesar tp harga minyak goreng nya mahal. sementara negara tetangga malaysia lebih memfokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri nya.

    anda pernah mengalami hal kaya gini?

    ada teman saya ngotot jauh2 pergi ke manchester untuk beli kaus original d merchandise store di inggris. sesampai nya di indonesia setelah di lihat2 ternyata kaus tsb made in indonesia :)

    anda ingin seperti dia? yng d bodohi oleh pemerintah yg seenak nya mengekspor kekayaan alam indonesia kemudian berdalih harus mengimport bahan pokok karna stok tidak mencukupi? padahal sebenarnya barang yg mereka impor datang nya dr indonesia hanya d beri label dan pack agar terlihat lebih menarik.

    klo bnar bgitu btapa konsumtif nya bangsa indonesia sementara d US saja banyak orang2 kaya yg berburu garage sale alias barang bekas klo d sini orang kaya mana yg mau berburu garage sale mungkin gengsi lbh d tinggikan ketimbang fungsi unutuk ukuran orang indonesia.

    Komentar oleh Dodol_Garut — Juni 1, 2008 @ 5:16 am

  50. Iya beritany tiap taon terus merosot tuh.
    Merosot yg dijual ke dlm negri apa krn dijual ke luar negri neh ilegal gt. Tp ngakuny jd merosot produksiny. Coba aja diselidikin.

    Komentar oleh Nia — Juni 1, 2008 @ 9:18 am

  51. Saya harap sebelum memberikan kesimpulan, anda harus fair dalam memaparkan fakta, karena
    A. berdasarkan data yang anda beritakan banyak data yang sudah expired alias kadaluarsa, seperti
    1. Saudi arabia 5/16/07, 2. Nigeria 3/3/05, 3. Iran 5/5/07, 4.Mesir 7/25/07, 5. Malaysia 2/3/06 6. China 5/5/07,
    dan hanya data Venezuela dan US yang agak baru

    Selain itu, perlu diingat bahwa harga minyak saat ini sangat bergejolak, dan perubahannya pun bergerak day to day basis.. jadi untuk itu data Venezuela yang january pun bisa dibilang tidak applicable lagi.

    B. Banyak dari negara yang anda sebutkan harganya sangat murah, adalah penghasil utama minyak dalam OPEC, dan juga merupakan net exporter, jadi menetapkan harga subsidi bagi rakyat mereka adalah suatu keharusan dan dapat dilakukan, karena kalau tidak rakyat akan chaos, dan menuntut pertanggungjawaban, misal : Venezuela, Arab Saudi dan Iran.

    C. Jenis bahan bakarnya diperbandingkan juga jenisnya belum tentu sama.

    D. Adalah tidak benar membandingkan harga barang dengan jumlah penduduk pemakai, terlebih apabila barang yang diperbandingkan adalah BBM yang merupakan energi tidak terbaharukan.
    BBM adalah produk yang dibutuhkan oleh semua negara yang dapat segera mengalir ke seluruh sudut dunia ini tanpa modifikasi yang signifikan, dan diperlukan oleh semua orang.
    oleh karenanya, tidaklah tepat apabila jumlah penduduk indonesia lebih sedikit, maka harganya adalah lebih murah bagi kita dibanding Amerika ataupun China.
    Harga jual produk per barrel adalah tetap sama. Apabila dipaksa ditarik asumsinya adalah apabila kita membeli lebih banyak, maka bolehlah kita menawar, mungkin harga lebih murah sedikit kontraknya.
    jadi kalau analogi ini yang jalan, malah kita yang harus bayar lebih mahal dari Amerika.. ini malah kacau namanya.
    Yang penting adalah Demand dan Supply, dan yang menjadi penyebab utama adalah jumlah produksi yang katanya jauh lebih rendah dari permintaan pemakaian dalam negeri.
    over demand menyebabkan kita import, dan import berarti kita tergantung pada negara luar, dan negara luar memakai harga internasional sebagai dasarnya, karena kalau kita tidak mau, mereka tinggal jual ke negara lain, selesai.

    E. Seharusnya kalau mau dipermasalahkan, kita tetap berfokus pada masalah Demand dan Supply itu :
    Misalnya :
    1. Apakah jumlah produksi yang dinyatakan Pemerintah itu sudah benar datanya? jumlahnya?
    2. Apakah biaya produksi yang dinyatakan Pertamina sudah benar2 biaya terbaik? kalau belum apa yang perlu dilakukan, dipotong biayanya agar paling tidak setara dengan negara-negara lain?
    3. Benarkah permintaan Dalam Negeri seperti yang dinyatakan Pertamina? apakah itu semua diserap oleh mereka yang berhak? berapa persen penyelundupannya? sudah berapa persen penyelundupan berhasil ditekan? apakah Pertamina bisa bertanggung jawab dan bertindak tegas pada petugas mereka yang memudahkan penyelundupan?
    4. Benarkah perilaku masyarakat dalam mengkomsumsi energi tak terbaharukan ini? sudah produktifkah? dapatkah dihemat lagi?

    Saya yakin untuk menyelesaikan pertanyaan2 tadi membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sedangkan beban anggaran sudah menganga didepan mata, lalu bagaimana mengatasinya? yang tentu tidak bisa dengan langkah pendek (shortcut) nasionalisasi.
    Ini merupakan upaya penuh emosi dan tidak berpikiran panjang, karena jika hal ini dilakukan maka sama saja Pemerintah tidak menghormati hukum dan kepemilikan barang di Indonesia. Langkah ini segera akan diikuti dengan kaburnya investasi dari Indonesia. Sudah siapkan kita kehilangan lapangan pekerjaan yang tinggal tersisa sedikit ini?
    Apakah Pertamina juga sanggup melakukan take over ini dengan baik, jangan2 hanya menambah pundi-pundi sebagian pejabat Pertamina lagi seperti yang terjadi pasca kemerdekaan RI dulu, dimana nasionalisasi aset tidak berhasil dimanfaatkan dengan baik, dan akhirnya Pemerintah memanggil kontraktor luar lagi untuk meneruskan usahanya didalam negeri.

    Saya pikir memang menaikkan BBM ini keputusan sulit yang terpaksa harus dilaksanakan, sambil menyelesaikan isu-isu diatas. Yang penting saya harap Pemerintah saat mendapatkan revisi hasil pemeriksaan data biaya produksi dan jumlah produksi dengan angka yang benar, mau dan harus berani merivisi kebijakannya saat ini, sehingga tidak ada istilah kalau harga sudah naik tidak mungkin turun. Pemerintah harus mau menurunkan kembali harga ke level yang benar tak kala data sebenarnya menunjukkan bahwa selisih profit yang ada selama ini adalah terlalu kecil karena adanya inefisiensi biaya-biaya yang terjadi di Pertamina.Rente ekonomi di Pertamina harus diberantas habis demi rakyat.
    Diperlukan keberanian untuk melakukan hal tersebut demi kepercayaan masyarakat Indonesia yang sudah sangat menderita ini.

    Komentar oleh Hadiarto — Juni 2, 2008 @ 3:26 am

  52. Pak Hadiarto, data dari Wiki itu tidak expired, tapi update karena tidak semua negara harga bensinnya berubah setiap hari.
    Contohnya di negara Indonesia harga bensin dari 1 Oktober 2005 Rp 4.500/liter. Pada tanggal 1 Mei 2008 pun masih segitu harganya. Jadi datanya tidak kadaluarsa karena dari tanggal 1 Oktober 2005 harganya belum berubah.

    Silahkan cek lagi harga bensin di:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_usage_and_pricing

    Di situ harga Bensin di Indonesia sudah berubah jadi RP 6.000/liter. Lebih mahal dari Malaysia yang hanya Rp 5.538/liter padahal penghasilan mereka 4 x lipat dari Indonesia.

    Silahkan cek di:
    http://infoindonesia.wordpress.com/2008/05/26/revisi-file-presentasi-%e2%80%9ctak-ada-subsidi-bbm%e2%80%9d-dan-penjajahan-kompeni/

    Harusnya Indonesia untung Rp 165,8 trilyun/tahun dengan harga lama.

    Kenapa rugi, karena 90% minyak kita dikuasai asing. Ongkos pompa minyak yang mereka ambil sampai US$ 50/barrel padahal ongkos yang wajar hanya US$ 4/barrel. Jika dikali 365 juta barrel/tahun Indonesia dirugikan Rp 154,5 trilyun / tahun oleh perusahaan minyak asing tsb.

    Saat ini banyak pemimpin kita yang terlalu sering meminta rakyat berkorban. Jarang ada pemimpin yang mau berkorban demi rakyatnya.

    Bensin kita kualitasnya rendah. Contohnya di Inggris itu paling rendah kualitasnya RON95 yang setara oktannya dengan Pertamax Super.

    Komentar oleh nizaminz — Juni 2, 2008 @ 3:55 am

  53. ya harus tinggi dwonk harga bensin, soale kalok nggak naek, para investor2 asing yg bakal nyerbu mbangun SPBU di endonesya itu nggak bakal ngasih ampelop :?

    Komentar oleh titov — Juni 4, 2008 @ 4:59 am

  54. Yang soko sok tahu mengatakan bahwa negara kita sudah jadi net importir silakan kunjungi situs resmi kementerian ESDM: http://www.dtwh2.esdm.go.id. Data di jamin update. Dalam situs tersebut anda akan melihat data yang menunjukkan bahwa SBY dan JK selama ini berbual, berdusta, dan menipu rakyat dengan mengatakan bahwa negara kita sudah menjadi net importir. Padahal, produksi BBM kita masih lebih besar daripada konsumsi BBM kita, Ekspor BBM kita juga masih lebih besar dibanding impor BBM kita. Negara kita masih jadi net eksportir BBM.

    Komentar oleh yusuf — Juni 4, 2008 @ 2:46 pm

  55. Asslm.Wr.Wb.

    Menurut hemat saya, harga BBM mengikuti harga MOP Singapura tidak layak menjadi acuan.

    Permasalahan utama pemerintah bukan pada subsidi tetapi pada kebijakan moneter Pemerintahan Pusat, pencetakan uang, cadangan devisa dan kurs dolar terhadap rupiah.

    Permasalahan moneter yang tampak jelas
    2008 Kurs US$ 1 = Rp. 9.300,00
    1996 Kurs US$ 1 = Rp. 2.500,00

    bila angka pembobotan US $ 1= Rp. 5000,00
    Harga minyak dunia menjadi
    US$ 125 /barrel x 1 ltr/159 barrel x Rp. 5000/US$ = Rp. 4.716,00

    Permasalahan moneter dan penyangga harga sembilan bahan pokok sejak tahun 1996 hingga 2008 belum terpecahkan oleh pemerintah, bahkan menambah utang.

    Waallahu Alam B.
    Wass.Wr.Wb.
    A U G I
    augispot.blogspot.com

    Komentar oleh AUGI — Juni 6, 2008 @ 1:30 am

  56. Itu dikarenakan mereka2 itu yg duduk di kursi atasan itu masih menganggap kita ini cuma jelata-jelata yg masih sangat-teamat bodoh, Jadinya ya… gitu deh. Dibodohin lagih. Sudah nasib kita.

    Komentar oleh garing — Juni 6, 2008 @ 2:53 am

  57. Semoga saja generasi kita mau menyisakan minyak-minyak yang dikuras di perut bumi ini untuk generasi nanti.

    Komentar oleh Aprians — Juni 6, 2008 @ 1:19 pm

  58. pusing…..saya ini sarjana nganggur umur dah 35 nglamar kerja minta ampun…kapan kawinnya….lha saya ini juga nggak termasuk orang miskin yang disubsidi…apalagi dapat BLT….tapi kenyatannya ya nggak punya penghasilan….sebenarnya harga minyak mo dinaikin berapa sih gak masalah…wong saya sudah menganut pola hidup ala beijing…BERSEPEDA….tapi kok ya beli tempe di wedangan naik…beli sayur naik,…beli minyak naik…beli nasi kucing juga naek….lha trus gimana penyelesainnya…kalo jutaan rakyat indonesia kayak saya gini…mendingan jadi orang miskin sekalian….(dapat bantuan)…ato orang kaya gitu loh…SORGA DUNIA….sialllll

    Komentar oleh kopad73 — Juni 6, 2008 @ 4:26 pm

  59. Yah mudah-2an orang dgn kenakan BBM orang miskin di Indonesia berkurang, jadi tinggal orang kaya saja yg ada, mungkin orang miskin di Indonesia pada ngungsi kebulan atau pada mati nggak kuat nanggung beban hidup …….
    pesan moralnya:”Janganlah memperkaya dengan jalan yang busuk, toh anda pasti mati juga & warisan dgn cara yg busuk pasti membawa modhorat (baca kutukan ALLAH)

    Komentar oleh KA'AFFAH — Juni 11, 2008 @ 2:11 am

  60. Bisa jadi mas Kopad program pengentasan kemiskinan itu seperti ini. Dengan menaikan harga barang terus menerus sementara penghasilan tetap atau bahkan tidak ada seperti sampean, maka orang seperti sampean akhirnya jika tidak stres bunuh diri akhirnya mati kelaparan (tidak dapat BLT ya?). Jadi jumlah penduduk miskin berkurang.

    Saya lihat banyak buruh yang penghasilannya cuma sekitar UMR yang tidak dapat BLT. Jadi BLT hanya dinikmati segelintir orang saja.

    Tapi sabar mas Kopad. Insya Allah ada jalan. Terus usaha dan doa.

    Komentar oleh nizaminz — Juni 12, 2008 @ 2:14 am

  61. harga BBM di MALAYSIA saat ini (30.10.2008)dam pertukaran rupiah RM1 = Rupiah 2800 .RON 92 = RM 2.20 = Rupiah 6160 .RON 97 =RM2.30 = Rupiah 6440. nilai GDP di MALAYSIA saat ini adalah RM 18500.(USD 5139) USD1 = RM 3.60. tapi GDP INDONESIA saya tidak tahu..tapi kalau dalam USD kurang 700 DOLAR AMERIKA..

    Komentar oleh dari tetangga — Oktober 30, 2008 @ 1:54 am

  62. kebohongan publik telah dimulai berulang kali lagi oleh sri mulyani dan purnomo tidak kapok mereka bilang hrga bbm kita lbh tinggi dari dunia

    Komentar oleh Teguh Iman Prasetya — Nopember 10, 2008 @ 12:36 am

  63. sori pa agus nizami lbh rendah dari dunia dah ngantuk habis bgdng

    Komentar oleh Teguh Iman Prasetya — Nopember 10, 2008 @ 12:38 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.