Pertamina Coba Kelola Migas di Luar Negeri

Kasihan Pertamina kalah tender untuk mendapatkan 2 lapangan minyak di Iraq karena dikalahkan Petronas. Di sisi lain, ini membuktikan bahwa sebenarnya bangsa kita mampu mengelola migas sendiri sehingga Pertamina diperkenankan mengikuti tender pengelolaan minyak tersebut. Bahkan di berbagai perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia pun kita akan dapati mayoritas pekerjanya adalah putra dan putri Indonesia.

Jadi seharusnya pemerintah bisa menyerahkan pengelolaan minyak di Indonesia seperti Blok Cepu ke Pertamina. Berusahalah jadi bangsa yang mandiri. Jangan bangsa jadi bangsa kuli yang membiarkan kekayaan alamnya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan migas asing.

Baca selebihnya »

Pancasila dan Krisis Ekonomi: Menata Ulang Posisi Negara, Pasar, dan Rakyat dalam Kegiatan Perekonomian

Sistem Ekonomi Neoliberalisme yang dianut AS dan sejumlah negara seperti Indonesia akhirnya menyebabkan dunia kembali tenggelam dalam Krisis Keuangan Global. Meski para ekonom Neoliberalis menganggap bahwa krisis ini cuma sekedar “Kegagalan Pasar” (Market Failure) yang bisa dikoreksi dengan “Intervensi” Pemerintah, namun sebetulnya itu adalah cacat bawaan dari Sistem Ekonomi Neoliberalisme yang akan selalu terulang kembali.

Pemenang Nobel bidang Ekonomi, Joseph Stiglitz menyatakan bahwa dalam 20 tahun terakhir hingga tahun 2008 sudah terjadi 3 kali Krisis Keuangan. Akibat Krisis Keuangan Global, pemerintah AS harus mengucurkan US$ 700 milyar (sekitar Rp 7.000 trilyun) untuk menyelamatkan “Pasar.” Untuk perusahaan AIG saja AS mengucurkan dana US$ 152,5 milyar. Indonesia sendiri dari tahun 1998 hingga 2008 sudah 2 kali mengalami krisis. Pada tahun 1998 pemerintah mengeluarkan dana sampai Rp 600 trilyun lewat KLBI dan BLBI. Jumlah yang melebihi APBN waktu itu.

Baca selebihnya »

UAN Perlu Tapi Jangan Menentukan Kelulusan

Saat ini banyak orang berbeda pendapat tentang UAN (Ujian Akhir Nasional). Ada yang setuju UAN harus dilakukan dan menentukan kelulusan. Ada juga yang bilang tidak perlu sama sekali. Ada juga yang berdiri di tengah dengan mengatakan UAN perlu untuk standarisasi kualitas pendidikan, tapi jangan dipakai sebagai alat untuk menentukan kelulusan. Apalagi pemerintah saat ini belum mampu menstandarisasi kualitas pendidikan mulai dari bangunan fisik sekolah, buku teks, hingga pendidikan guru (ada yang setara SMA sementara di sekolah lain ada yang S1).

Baca selebihnya »

Kejahatan di Angkutan Umum (Mikrolet, Bis, KA, dan Metromini)

Kejahatan di Angkutan Umum sering terjadi. Kalau di biskota dan kereta api Jabotabek yang sering terjadi adalah pencopetan oleh kawanan pencopet (bisa berjumlah 9 orang), maka pada angkutan kecil seperti Mikrolet adalah penodongan. Korbannya terutama wanita dan ibu-ibu.

Sebagai contoh di Mikrolet M18 (Pondok Gede-Kampung Melayu) terjadi peristiwa penodongan seorang ibu oleh 2 orang penodong menggunakan pisau cutter. Pada mikrolet lain seperti M16 (Kp Melayu-Pasar Minggu), M44, dsb penodongan juga kerap terjadi.

Baca selebihnya »

Mobil Baru: 70% Lebih Murah Dari Tata Nano

Berikut adalah mobil baru yang 70% lebih murah daripada mobil termurah di dunia: Tata Nano. Anda bisa melihat foto-fotonya di bawah.

Body terbuat dari gedek (bilah bambu) yang nyaman dan alami. Semua orang tahu bahwa besi/baja adalah penghantar panas (konduktor) yang baik. Jadi jika mobil pakai plat body dari besi/baja, maka panasnya bukan main. Apalagi kalau di negara tropis. Belum lagi kalau efek Global Warming/Pemanasan Global makin menggila.

Baca selebihnya »

Hentikan Menjual BUMN Strategis kepada Asing

Hentikan Menjual BUMN Strategis kepada Asing

Selasa, 11 Agustus 2009 | 14:44 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Ekonom dari Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, menyarankan agar pemerintah tidak menjual badan usaha milik negara (BUMN) yang bersifat strategis kepada asing, apalagi yang jelas-jelas telah memberikan keuntungan.

“Kalau BUMN kateringan misalnya hotel, bolehlah dikuasai asing, tapi yang bersifat strategis, seperti penerbangan, minyak, dan gas serta lainnya hendaknya tetap dipertahankan,” katanya di Medan, Selasa (11/8).

Baca selebihnya »

Jaksa Agung Hendarman Supandji Minta Rp 10 Trilyun untuk Bersihkan “Markus” (Makelar Kasus)

Jaksa Agung Hendarman Supandji pada rapat DPR mengakui adanya “MARKUS” (Makelar Kasus) atau Mafia Peradilan yang tak jarang “menyulap” yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.

Jaksa Agung mengakui ada “baunya”, tapi sulit membersihkannya. Untuk memberantas “Markus”, Jaksa Agung minta uang Rp 10 trilyun agar gaji para jaksa yang semula hanya Rp 3 juta bisa dinaikkan jadi Rp 12 juta. Dengan anggaran Rp 2 trilyun, sulit memberantas “Markus”, begitu kata Supandji.

Baca selebihnya »

Aparat Hukum Berusaha Memenjarakan Konsumen yang Mengeluh?

PRITASaya lihat di Anteve tadi pagi (15 Oktober 2009), Roy Suryo menyatakan bahwa Prita yang mengirim email keluhan ke milis itu salah. Roy menyatakan itu sebagai saksi Ahli di Bidang TI.

Kalau saya pribadi melihat bahwa koonsumen komplain ke milis atau pun surat pembaca ke media massa seperti Koran atau majalah itu adalah hal yang wajar. Bahkan untuk media seperti Koran atau Majalah itu dari dulu sudah lama biasa terjadi.

Baca selebihnya »

Transkrip Rekaman Anggodo, Jaksa, dan Pengacara

Di bawah adalah transkrip rekaman Anggodo dengan Jaksa, Pengacara, dan juga seorang Wanita (yang ternyata suka “memijat” di hotel-hotel) dari media massa seperti Kompas dan Vivanews.com.

Di situ disebut bagaimana seorang pejabat tinggi Kejaksaan minta “dipijat” dan juga pencatutan nama RI-1 untuk menangkap pimpinan KPK.

Besar harapan kita berita di media massa ini tidak benar. Jika pun benar, semoga revolusi hukum (sebab reformasi tidak akan berhasil) dapat menyingkirkan Markus (Makelar Kasus) dan juga Mafia Peradilan yang sering membuat yang salah jadi benar dan benar jadi salah.

Baca selebihnya »

Dimejahijaukan, Ambil Tiga Biji Kakao Senilai Rp 2.100

Rasulullah SAW bersabda: “Hakim itu ada tiga, dua orang di neraka dan seorang lagi di surga. Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka ia di surga; seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di neraka; dan seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka.” Riwayat Imam Empat.

Saya tidak tahu apakah Polisi dan Jaksa kita kekurangan pekerjaan sehingga kasus pengambilan 3 biji kakao senilai rp 2.100 harus dibawa ke pengadilan.

Begitu pula dengan kasus pencurian satu buah semangka, di mana kedua tersangka disiksa dan ditahan polisi selama 2 bulan dan terancam hukuman 5 tahun penjara.

Sebaliknya untuk kasus hilangnya uang rakyat senilai rp 6,7 trilyun di Bank Century, polisi dan jaksa nyaris tidak ada geraknya kecuali pak Susno Duadji yang ke Singapura menemui Anggoro salah satu penerima talangan Bank Century.

Baca selebihnya »